Asalamuallaikum ,
Tulisan kali ini merupakan sudut pandang dari seorang teman massa kecil soal ada tidaknya burung yang digunakan sebagai simbol pancasila sampai pandangannya soal ilmu zuhud, mari kita simak.
Garuda,bukanlah nama asing di telinga kita. Ia adalah lambang negara , digunakan timnas indonesia sebagai julukan atau sebagai komersil. Garuda telah menjadi Simbol negara sejak 74 tahun. Tapi pernahkah kita bertanya-tanya benarkah burung ini ada ?! Garuda dalam wikipedia indonesia dijelaskan sebagai salah satu dewa agama hindu dan buddha di gambarkan bertubuh emas berwajah putih dan bersayap merah. Selain indonesia negara lain yang menjadikan nya sebagai lambang negara ialah Thailand dengan versi bentuk berbeda.Berdasarkan ilmu pengetahuan , tidak pernah ditemukan burung dengan ciri-ciri simbol garuda,namun dalam literatur klasik kebudayaan kuno disebutkan burung ini memang ada.
Sebagai penyuka ilmu linguistik saya lebih tertarik mencermati burung ini dari segi bahasa dalam bahasa arab dikenal denga kata Al-Anqa , di kamus bahasa inggris disebut griffin dan dalam kamus melayu diartikan sebagai "Burung Garuda" sedangkan dalam ensikopledia umum Anqa adalah burung mitos. Kamus Arab - Bahasa Inggris karangan Al-Balaba'qi mengartikan sebagai hewan yang bagian atasnya berupa burung dan memiliki tubuh berupa singa. Ensiklopedia hewan karangan Al-Jahid menyatakan al- anqa berasal dari bahasa persia yaitu simouth di ambil dari dua kosa kata si dan mouth (simouth) yang memiliki arti kekuatan 30 ekor burung. Sepertinya riwayat tentang Burung Garuda dengan istilah Anqa lebih bisa diterima ketimbang pada penjelasan pertama. Jadi mari kita fokus pada riwayat hidup Anqa !
Seorang sejarawan asal Irak , Abu Hasan Al-Masudi mengatakan bahwa Anqa ada pada zaman nabi Musa Alaisalam dan berimigrasi ke arah saudi kemudian punah , sedangkan ahli bahasa asal afrika Ibnu Mandul dalam bukunya lisan al - arab menerangkan bahwa burung anqa semula berada di kampung rafsy , akan tetapi dimasa itu penduduk kampung rafsy menyembah berhala sehingga Allah mengazab kampung itu dengan serangan burung anqa.
Terlepas dari perbedaa tersebut , saya pernah membaca sebuah artikel yang berisi sangat menarik tentang risalah pendek karya Imam Al- Gozali berjudul Al- Anqa. Risalah sepanjang tiga lembar yang berisi delapan ayat,satu hadist dan sebelas syair mengisahkan perjalanan salik ( sang pencari ) menuju tuntunan Allah. Dalam risalah Imam Ghozali menyampaikan kepada para salik bahwa menuju kepada Allah bukan jalan yang mudah dan bertabur bunga , melainkan menanjak dan penuh duri. Para hamba yang hendak menuju kepada Allah diibaratkan dengan burung-buung dari seluruh penjuru dunia yang ingin mengunjungi raja semua burung yaitu Anqa yang berada di Samudera. Untuk mencapainya sangat sulit dan melelahkan , dalam perjalanan menuju samudera,burung yang hidup di iklim dingin akan mati di iklim panas dan begitu juga sebaliknya. Keadaan itu ibarat orang yang ingin menuju Allah yang semula dalam keadaan kaya bisa mati dalam keadaan miskin begitu juga sebaliknya. Maka seharusnya dalam memaknai status kaya miskin hendaklah di pahami dalam frame ujian dari Allah.
Masih dalam risalah tersebut di akhir perjalanan hanya sedikit yang sampai di samudera , sisanya mati di perjalanan.Namun setelah bertemu Anqa sang raja , kedatangan mereka malah ditolak. " Aku tidak butuh saudara ! aku ini burung besar kalian datang kesini atau tidak ,tidak berpengaruh untukku aku tidak perlu di kunjungi , mendengar penolakan sang raja para burung langsung putus asa. Anqa lalu berkata "Janganlah kau putus asa , jika tadi aku menunjukkan sifat Ghanny-ku , aku akan membuka lebar - lebar pintu Karim-ku , jika memang kalian membutuhkan itu semua." Ini bisa diibaratkan ketika Allah menunjukkan sifat Ghanny-Nya seolah Allah berfirman "aku ridak membutuhkan kalian , kalian mau beribadah atau tidak ! Aku tidak membuuhkan itu semua , karena aku Maha Besar , Maha Agung , Maha Kaya," Allah memang tidak membutuhkan siapapun , semua mahluk di Alam ini bersujud atau tidak sama sekali tidak berpengaruh pada kebesarannya. Namun Allah akan membuka pintunya seluas-luasnya bagi hamba yang membutuhkannya.
Kita lanjut ke risalah Imam Al-Ghozali , kemudian burung-burung tersebut berkata "tadi teman-teman kami mati diperjalanan" , sang raja menjawab ; "Barang siapa yang keluar rumahnya karena hijrah kepada Allah dan Rasulnya , kemudian ia ditimpa maut , maka Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S An-Nisa :100).
Ini adalah persoalan zuhud dan apa yang dicapai para salik sebagaimana di gambarkan dengan burung oleh Imam Ghozali adalah tingkat zuhud al-muhibbin yaitu ketika orang benar-benar cinta pada Allah , tidak mengharapkan surga dan takut neraka. Ia siap masuk neraka jika Allah menghendaki dan siap masuk surga jika Allah meridhoi. Masya Allah , maha besar Allah yang telah menuntut saya dari membaca risalah ini , dari ketertarikan saya menelusuri jejak asal burung Garuda .
Karya Ambya Mursadin ,
Penulis Fauzi A.N
Tulisan kali ini merupakan sudut pandang dari seorang teman massa kecil soal ada tidaknya burung yang digunakan sebagai simbol pancasila sampai pandangannya soal ilmu zuhud, mari kita simak.
Garuda,bukanlah nama asing di telinga kita. Ia adalah lambang negara , digunakan timnas indonesia sebagai julukan atau sebagai komersil. Garuda telah menjadi Simbol negara sejak 74 tahun. Tapi pernahkah kita bertanya-tanya benarkah burung ini ada ?! Garuda dalam wikipedia indonesia dijelaskan sebagai salah satu dewa agama hindu dan buddha di gambarkan bertubuh emas berwajah putih dan bersayap merah. Selain indonesia negara lain yang menjadikan nya sebagai lambang negara ialah Thailand dengan versi bentuk berbeda.Berdasarkan ilmu pengetahuan , tidak pernah ditemukan burung dengan ciri-ciri simbol garuda,namun dalam literatur klasik kebudayaan kuno disebutkan burung ini memang ada.
Sebagai penyuka ilmu linguistik saya lebih tertarik mencermati burung ini dari segi bahasa dalam bahasa arab dikenal denga kata Al-Anqa , di kamus bahasa inggris disebut griffin dan dalam kamus melayu diartikan sebagai "Burung Garuda" sedangkan dalam ensikopledia umum Anqa adalah burung mitos. Kamus Arab - Bahasa Inggris karangan Al-Balaba'qi mengartikan sebagai hewan yang bagian atasnya berupa burung dan memiliki tubuh berupa singa. Ensiklopedia hewan karangan Al-Jahid menyatakan al- anqa berasal dari bahasa persia yaitu simouth di ambil dari dua kosa kata si dan mouth (simouth) yang memiliki arti kekuatan 30 ekor burung. Sepertinya riwayat tentang Burung Garuda dengan istilah Anqa lebih bisa diterima ketimbang pada penjelasan pertama. Jadi mari kita fokus pada riwayat hidup Anqa !
Seorang sejarawan asal Irak , Abu Hasan Al-Masudi mengatakan bahwa Anqa ada pada zaman nabi Musa Alaisalam dan berimigrasi ke arah saudi kemudian punah , sedangkan ahli bahasa asal afrika Ibnu Mandul dalam bukunya lisan al - arab menerangkan bahwa burung anqa semula berada di kampung rafsy , akan tetapi dimasa itu penduduk kampung rafsy menyembah berhala sehingga Allah mengazab kampung itu dengan serangan burung anqa.
Terlepas dari perbedaa tersebut , saya pernah membaca sebuah artikel yang berisi sangat menarik tentang risalah pendek karya Imam Al- Gozali berjudul Al- Anqa. Risalah sepanjang tiga lembar yang berisi delapan ayat,satu hadist dan sebelas syair mengisahkan perjalanan salik ( sang pencari ) menuju tuntunan Allah. Dalam risalah Imam Ghozali menyampaikan kepada para salik bahwa menuju kepada Allah bukan jalan yang mudah dan bertabur bunga , melainkan menanjak dan penuh duri. Para hamba yang hendak menuju kepada Allah diibaratkan dengan burung-buung dari seluruh penjuru dunia yang ingin mengunjungi raja semua burung yaitu Anqa yang berada di Samudera. Untuk mencapainya sangat sulit dan melelahkan , dalam perjalanan menuju samudera,burung yang hidup di iklim dingin akan mati di iklim panas dan begitu juga sebaliknya. Keadaan itu ibarat orang yang ingin menuju Allah yang semula dalam keadaan kaya bisa mati dalam keadaan miskin begitu juga sebaliknya. Maka seharusnya dalam memaknai status kaya miskin hendaklah di pahami dalam frame ujian dari Allah.
Masih dalam risalah tersebut di akhir perjalanan hanya sedikit yang sampai di samudera , sisanya mati di perjalanan.Namun setelah bertemu Anqa sang raja , kedatangan mereka malah ditolak. " Aku tidak butuh saudara ! aku ini burung besar kalian datang kesini atau tidak ,tidak berpengaruh untukku aku tidak perlu di kunjungi , mendengar penolakan sang raja para burung langsung putus asa. Anqa lalu berkata "Janganlah kau putus asa , jika tadi aku menunjukkan sifat Ghanny-ku , aku akan membuka lebar - lebar pintu Karim-ku , jika memang kalian membutuhkan itu semua." Ini bisa diibaratkan ketika Allah menunjukkan sifat Ghanny-Nya seolah Allah berfirman "aku ridak membutuhkan kalian , kalian mau beribadah atau tidak ! Aku tidak membuuhkan itu semua , karena aku Maha Besar , Maha Agung , Maha Kaya," Allah memang tidak membutuhkan siapapun , semua mahluk di Alam ini bersujud atau tidak sama sekali tidak berpengaruh pada kebesarannya. Namun Allah akan membuka pintunya seluas-luasnya bagi hamba yang membutuhkannya.
Kita lanjut ke risalah Imam Al-Ghozali , kemudian burung-burung tersebut berkata "tadi teman-teman kami mati diperjalanan" , sang raja menjawab ; "Barang siapa yang keluar rumahnya karena hijrah kepada Allah dan Rasulnya , kemudian ia ditimpa maut , maka Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S An-Nisa :100).
Ini adalah persoalan zuhud dan apa yang dicapai para salik sebagaimana di gambarkan dengan burung oleh Imam Ghozali adalah tingkat zuhud al-muhibbin yaitu ketika orang benar-benar cinta pada Allah , tidak mengharapkan surga dan takut neraka. Ia siap masuk neraka jika Allah menghendaki dan siap masuk surga jika Allah meridhoi. Masya Allah , maha besar Allah yang telah menuntut saya dari membaca risalah ini , dari ketertarikan saya menelusuri jejak asal burung Garuda .
Karya Ambya Mursadin ,
Penulis Fauzi A.N


Comments
Post a Comment